Ada yang terasa manis
tersembunyi di balik laparnya lambung
Insan itu tak ubahnya sebatang seruling.
Ketika penuh isi lambung seruling,
tak ada desah: rendah atau tinggi yang dihembuskannya.
Jika lambung dan kepalamu terasa terbakar karena berpuasa,
apinya akan menghembuskan rintihan dari dadamu.
Melalui api itu akan terbakar seribu hijab dalam sekejap,
kau akan melesat naik seribu derajat dalam Jalan dan cita-citamu.
Jagalah agar lambungmu kosong.
Merintihlah bagai sebatang seruling
dan sampaikan keperluanmu kepada Rabb.
Jagalah agar lambungmu kosong
hingga dapat kau lantunkan bermacam rahasia layaknya sebatang seruling.
Jika lambungmu selalu penuh
Setan yang akan menanti di kebangkitanmu dan bukannya Akal Sejati-mu,
di rumah berhala dan bukannya di Ka'bah.
Ketika engkau berpuasa,
akhlak yang baik berkumpul di sekitarmu,
bagaikan pembantu, budak dan penjaga.
Teruskan lah berpuasa,
karena ia adalah segel Sulaiman.
Jangan serahkan segel itu kepada Setan,
yang dapat membuat kerajaanmu kacau.
Dan jika sempat kerajaan dan bala-tentaramu tinggalkan dirimu,
mereka akan kembali,
jika kau tegakkan lagi panjimu dengan berpuasa.
Hidangan dari langit, al-Maidah,
telah tiba bagi mereka yang berpuasa.
Isa ibn Maryam telah menurunkannya dengan do'anya.
Tunggu lah Meja Perjamuan, al-Maidah,
dari Yang Maha Pemurah dengan puasamu:
sungguh tak pantas membandingkan hidangan dari langit dengan sederhananya sup sayuranmu.
Sumber:
Rumi: Divan-i Syams Ghazal 1739.
dari terjemahan ke Bahasa Inggris oleh William C. Chittick dalam "The Sufi Path of Love" SUNY Press, Albany, 1983. dan dari terjemahan ke Bahasa Inggris oleh A.J. Arberry dalam "Mystical Poems of Rumi 2" The University of Chicago Press, 1991.
Diambil dari: Ngrumi.blogspot.com
Post a Comment Disqus Facebook